Alkisah, ada seekor induk ayam yang sedang mengerami telurnya. Tanpa disadari, ada seseorang yang menaruh telur burung rajawali, meskipun dierami oleh seekor ayam. Namun, induk ayam mendidiknya sebagai anak ayam karena ia seekor ayam dan dia yang menetaskan telur ini.
Anak rajawali ini mulai mengalami kesulitan dalam hidupnya. Ia kesulitan mematuk butir-butir padi karena paruhnya bengkok. Anak rajawali mulai bertanya kepada induknya. "Ma, Ma, aku ini ayam atau apa, sih, Ma?" Induknya menjawab, "Nak, kamu ini ayam, Nak. Biasakanlah, maka kamu akan terbiasa."
Sayap anak rajawali mulai berkembang panjang dan badannya bertumbuh besar, sehingga kesulitan berjalan maupun berlari bersama anak-anak ayam lainnya. Terkadang, sayapnya nyangkut. Cakarnya yang berkuku bengkok tidak nyaman digunakan berlari. Anak rajawali bergumul dan diam-diam ia menghampiri induknya lagi. "Ma, Ma... ini rahasia kita berdua saja, ya, Ma. Aku ini ayam atau apa, sih, Ma?" Induk ayam menjawab lagi, "Nak, sebenarnya... sebenarnya kamu ini memang ayam, Nak."
Pada suatu hari, ada seekor rajawali terbang di udara. Induk ayam mulai memanggil dan melindungi anak-anak ayam, termaksud anak rajawali yang ia tetaskan. Anak rajawali bertanya kembali kepada induknya, "Ma, kenapa kita harus sembunyi? Siapa yang terbang di atas?" Sang Induk, sambil menutupi mata anak-anaknya supaya tidak melihat seperti apakah rajawali, menjawab, "Itu rajawali yang terbang di atas kita. Ia pemangsa kita. Ia perkasa dan dapat terbang tinggi, sementara kita harus bersembunyi karena kita ini ayam, Nak."
Sementara anak rajawali mencari jati diri, induk ayam yang ia percayai karena telah membesarkannya, mulai sakit parah. Maka, datanglah sang anak rajawali ke induknya untuk bertanya sekali lagi. "Ma, mumpung masih hidup, nih, Ma, aku mau tahu yang sebenarnya. Aku ini ayam atau apa, sih, Ma?"
"Nak... sebelum Mama meninggal... Mama mau katakan yang sebenarnya, nak... bahwa kamu itu... aaa... aa... aakkk...!". Dan, sebelum menyelesaikan kalimatnya, matilah induk ayam.
Anak rajawali menganalisis kata-kata terakhir induknya. Aaa... aaa...? Ah, tentunya Mama ingin berkata bahwa akau ini aaa... aaa... ya... pasti ayam! Memang aku ayam. Aku akan terus hidup sebagai ayam, batinnya. Diucapkan kesimpulan tersebut berkali-kali dalam hati, sementara dirinya menangisi kematian sang induk.
Singkat cerita, anak rajawali ini hidup, berkembang, dan sampai matinya berpikir sebagai ayam, lengkap dengan segala kesulitan, ketakutan, dan kesusahannya.
Sahabat, anak rajawali tersebut sebenarnya memiliki kemampuan untuk terbang. Namu, mindset yang ditanamkan dalam dirinya adalah tidak bisa terbang. Ini akibat pemberian sugesti dari induk ayam yang berkali-kali mengatakan, "Kamu adalah anak ayam, nak. Ayam."